Karya Admin


Judul: Luka Desember
Oleh: Isa Mahesa
.
Waktu bergulir cepat
Iringi langkah kaki menapaki jejak
Arungi derasnya kehidupan yang berarak
Titian napas yang kian merapat
.
Di sini ... di kota ini
Langkahku gontai tertatih duka
Kemana kuharus ikuti kata hati?!
Sedang mimpi enggan menyapa
.
Bersama bayu yang menetes
Di bulan yang terkenang fakir
Akankah pergulatan hati berakhir meretas?
Ouh ... Desember ... akhir langkah sang musafir
.
Lihatlah kawan!
Aku masih tegak berdiri di tepian lara
Tubuhku koyak penuh luka dusta
Sang pujangga bertopeng Dewa
.
Kobaran semangat di kalbu
Tak 'kan terhenti meski kau tipu rayu
Bersama sang pelangi
Aku ... akan terus berkarya dalam luka hati
.
Terbawa angin utara
Hadirkan senja bahagia
.
Isa Mahesa, Cirebon 4 Desember 2015

 Dhimas Ardhyyo

Scream Angle

Aku sendirian berjalan ketika kawanku terlelap
Diterangi nyali langkahku menghempas dingin hawa malam
Sedang mataku terbuai, “Ég Silhouette, sveima,” mysl berbisik memberitahu
Apa aku takut berkawan dengan gelap malam?

Sudut mengejekku dengan bayang-bayang ketakutan dan suara jatuh
“Ég var skelfilegt, ég er skelfilegur, flýja!,” mysl berbisik memberitahuku
Hjarta mitt segir jangan berteriak, memalukan
Melewati sudut-sudut menakutkan, aku berjalan sendirian

Dhimas Ardhyyo, Batam, 051115

 Ary Rusady

Romantisme
.
Tahu apa aku tentang romantisme
Tahuku hanya, membelai setir kendali
Meneteskan peluh dari satu tempat ke tempat lainnya
Memenuhi hasrat membesarkan buah hati
.
Kecup mesraku menjual bibir, menggadai gincu
Puas memutar otak, melobi para komisaris
Untuk mencicipi sajian dapur beraroma bumbu bumbu
Nikmati daya kreasi seni kulinerku
.
Desahanku, hanya untuk tagihan mundur yang tertunda
Kasihanilah aku, jangan ingkari janji
Bayar tunai hidangan istimewa penuh cintaku
Sesuap nasi untuk penuhi kekosongan lambung
.
Aku lupa romantisme hidup
Cintaku bertebaran di jalanan
Dipunguti hati para tuna karya
Kita sama, pengais kasih berbentuk gemerincingan
.
Sentuhan malam kunikmati berupa usapan angin
Dingin mencubuiku diantara derit derit mesin pabrik
Kapan aku bisa bermanja pada dada tegar?
Romantismeku saat kunikma

ti senyum puas bibir bibir mungil yang menjadikanku bahu sandarannya.
.
Nasib Tukang Ketring *****
.
Ary

Tidak ada komentar:

Posting Komentar